Hanya diam yang kemudian merapat,
Hati Yang Berkisah...
Kamis, 19 November 2020
Hanya diam yang kemudian merapat,
Kamis, 28 April 2011
Senja telah dipertemukan malam
Saat langkah-langkah kecilmu mendahului lelahku untuk hari ini...
Riak kecil yang kau buat dalam genangan air mata
Saat kau mulai melepas sentuhan
Hati ini masih menghadapmu...
Tapi apakah aku yang lalu sepadan untuk cintamu saat itu.
Begitu sulit untuk menahan kerinduan agar tetap ditempatnya
Nafas yang enggan meninggal mati keadaan
Membuatku hidup tanpa hati untuk sudahi sisa hari
Bait-bait ini kutulis pada angin yang berhembus pelan
Kutitipkan salam dari kerinduan yang selalu saja ingin melompat dan berlari kearahmu
Lambatnya malam menelan sisa-sisa hari menyisakan arti yang berbeda akan perih
Akankah cemas melepas harap atas kisah
Saat terjaga di sepertiga malam dengan doa yang masih saja sama
Tengkuk ini terasa dingin, kerut kerut penyesalan mengukir dahi
Diantara pekat malam yg melambatkan kesadaran.
Simpanlah aku didalam hatimu selama yang engkau mau
Berbagi nafas, hanyut dalam setiap denyut nadimu
Serta melekat pada setiap detak jantungmu.
Selayaknya nyawaku dalam jasad ini...
...
Kamis, 08 Januari 2009
ARTIAN
Mengusap luka demi luka menawarkan bahagia,
Membelai jiwa yang terletih
Mendekap hati yang terkosong
Lalu dimanakah hatimu kini?
Apakah sudimu juga pergi meninggalkanku?
Hati ini kosong, semua yang ada melenggang pergi
Menyisakan rindu yang tak bertuan.
Ingatkah engkau saat jantung ini berdetak keras
Ketika senyum itu sengaja kau ciptakan untukku
Dan memang hanya untukku
Aku tak merasakan hidup lagi, semua terasa begitu ringan
Melayang kearahmu semua keikhlasan
Memberikan arti atas kelahiranku.
Harus kubawa kemana luka-luka ini?
Satu-satunya jalan yang kutahu telah tertutup
Begitu rapat memaksa kebodohanku terbaring disudutnya
Disinilah tempat dimana aku,
Kehilangan arti atas kelahiranku.
BILA DENGANMU
Diatas gundukan sesal yang paling tinggi
Kubenahi hati seadanya
Lalu dalam pelan yang mengisyaratkan kelelahan
Kusebut namamu.....
Katakan apa saja pada kesan yang datang sore ini
Ketika baru saja akan kunikmati pesonamu
Kurapatkan ruas-ruas jemari doaku
Langit jingga pekat kutatap lekat
Tidak ada bintang jatuh untuk sebuah permohonan
Kau tinggalkan aku dalam sadar yang terus berdecak
Saat senyuman itu melebar dari auramu
Tubuh ini bergetar tungkai-tungkai berlemasan
Engkau telah menuai semua jemu
Dari ladang gersang penantian
Apakah lalu hidup menjadi sebuah pilihan
Saat kuingin senyum itu mengisi penuh sisa hidupku
Walau seluruh jera menghimpun lara
Hingga roboh menghempas tanah
Lalu mati sesaat kemudian......
Hidup tentu saja bukan tentang pilihan,
Bila denganmu.....
JASAD
Tentang pundak pundak pengembara yang saling berbicara perihal lelahnya
Juga tentang maaf dalam ribuan bahasa
serta tentu saja tentang dosa yang naik tahta.
Beritakan kepada desir lelah yang mengerucut
Apa yang dapat kuperbuat ?
Aku melangkah maju dalam kereta yang berjalan mundur
Lalu kau katakan, (senyap) untuk sebuah akhir
Dari sekilas sikap tempo hari
Kau rendahkan maksud dengan sedikit tutur
Ketika kubiarkan cerita ini mengikis habis ketenangan hati
Jasad yang mungkin, tak mungkin lebih lelah
Bergerak lamban meninggalkan keinginan
Namun dirimu masih tetap disana
Seperti saat diriku belum datang
KESATRIA GUNDAH GULANA
Benih-benih akal sehat terkuras entas
Hati kecil menjerit memekakkan telinga sanubari
Penat ini semakin menjulang
Jelaskan kepadaku tentang putaran waktu
Saat kupijak malam-malam tak bernyawa
Segelap hina menyekat jiwa
Sehitam arang kayu pengorbanan
Tidakkah kau tergoda untuk diam
Apakah nafas bengisku tak terhirup olehmu ?
Amarahku meletup-letup di atas wajan angkara
Mendidihkan merah geram wajah berang kesetanan
Kubunuh engkau wahai penguasa hati
Pembungkam hasrat dan penumpas niat
Benci ini terhunus ke jantungmu
Sebaiknya pergi !
Sebelum detak sadarmu jatuh tersungkur.
SELAMAT PAGI ....
Menyendiri sesaat kemudian sudahi perannya
Iba aku pada hasrat
Tergeletak lemas tak berdaya
Ter-sesak-desak malu, hina dan kecewa
Suram tak lekas pupus
Mengitari hati dan kepalaku
Begitu kuat mengikat gelap
Menahanku terjebak dalam-dalam
Pada letih yang meranggah semakin tinggi
Namun bila sepi itu menyentuh
Semakin jauh meraba jenuh dan sendiriku
Ketika rindu ini enggan beranjak
Detik demi detik pun berlalu menjauh
Biarkan kusebut namamu hingga usai (rasa ini)
BESOK
Hari ini jangan.
Besok boleh susah,
Hari ini jangan.
Besok boleh Gundah,
Hari ini jangan.
Besok boleh sakit hati,
Hari ini jangan.
Besok boleh sedih,
Hari ini jangan.
Besok boleh tunduk,
Hari ini jangan.
Besok boleh gugur,
Hari ini jangan.
Ini buat dibaca besok....
SELAMAT PAGI 2
Biarkan bulan mencium keningmu ketika gelap malam meresap
Hitam rambutmu tergerai seiring mimpi menghuni lelap
Hingga lafad-lafad adzan menjadi saksi hadirnya pagi
Saat matahari mulai membelai wajahmu
Aku hanya dapat menyapa senyuman
Mengisi pundi-pundi harap dengan doa
Dan serangkaian puji-pujian
Sejengkal penuh sebutir peluh melukis jejak pada wajah
Letih ini tertunduk malu dihadapanmu
Sementara rasa rindu mulai bertebaran
Mengisi denyut-denyut nadi yang tak beraturan
Keinginan ini hidup dalam sebuah harapan
Saat senja mengikat perih pada pandanganku
Biarkan keikhlasan mencium hatimu saat gelap malam kembali meresap
Dan ijinkan rinduku menemani lelapmu
SENYUM DARI LANGIT
Walau kau berada dalam sengit
Seutas tali sengaja menjuntai-juntai dalam sempit
Seakan tahu dirimu dalam keadaan sedikit
Lalu apa perdulinya bila kau juga sakit
Tidak ada sesungguhnya sahabat, hanya teman
Kasihnya tersendat-sendat dan sangat pelan
Kucoba menangis seperti perempuan-perempuan
Namun pekan terus berakhir pekan
Bersembunyi pada sarang laba-laba
Dengan mata pura-pura buta
Menerobos tatakrama dengan segumpal dosa
Dan berharap hari tak berakhir sama
Jenuh aku pada langit
Dan menangis seperti perempuan
Hidup bergelimang dosa.
Lalu apa pedulinya bila aku juga sakit
JURANG KENYATAAN
Tertanam pada wajah bumi
Jejak langkah-langkah pesakitan
Menuruni lereng terjal bukit keinginan
Dirimu berada di puncak sana
Diseberang jurang diatas bukit ini
Tiada bergeming menatapku tajam
Memaksaku kehilangan nuansa rasa
Jemariku tak cukup kuat menggapaimu
Kau berada pada sisi kenyataan yang lain
Jurang itu memisahkan jalan dari tanah ini
Memaksaku kembali sejauh
Tujuh ratus dua puluh tapak kaki
TERIMAKASIH
Saat datang saat bersua
Kepada hati yang berkisah
....................................................
Kurebahkan kerinduan ini di pangkuanmu
Setelah jarak sibuk mendera
Sekembali langkah empat penjuru
.....................................................
Biarkan kutatap lekat pesonamu
Setelah letih terikat peluh
Hingga pagi datang bertandang
.....................................................
Pelik bukan milik kita
Akan kubentang pelangi pada setiap peran
Kuredakan gemuruh untuk semua badai
......................................................
Tak akan datang lusuhnya arti
Disaat tua datang menjelang
Untuk hadirmu kali nanti
.......................................................
Seiring senyum untuk sang puteri
Dalam lelapmu malam ini
Sebaris kata bila terucap
Terimakasih
..........KATANIA
Tatkala datang saat terjaga.
Yang terelok dari semua kata hati,
Selepas jera sepeninggal penat.
Jangan beranjak memeluk harap.
Tetaplah disana tak terjamah jenuh.
Mengisi penuh semua jeda.
Telah datang senyum itu kepadaku,
Begitu pula derai canda penghela luka.
Perihal rindu bilakah tiba
Kuberi cinta sebuah nama
.........................
SEJATINYA
Aku tak punya hati lagi
Kutinggalkan bersama galau yang bersorak-sorai
Melekat erat pada keterpurukan iman
Sejatinya perih,
Keluh yang berujar lemah
Memaksa keraguan untuk segera merapat
Menemani tulusnya sebuah keinginan
Sejatinya kelam,
Kusandarkan sekotak penuh harapan
Pada dirimu yang membelakangiku
Pecundangi niat yang kupercaya selama ini bersahaja
Sejatinya mati,
Aku tak ingin hidup lagi
Bila tanpa dirimu sang penuai rindu
Tempat kuserahkan semua sepi dan seluruh janji
Sejatinya mati.............
Senin, 22 Desember 2008
HANYA MANUSIA
Saat riak anak sungai terus memecah kesunyian.
Apakah aku lalu sekuat badai ?
Ketika semilir hembusan angin mampu menjatuhkan kelopak mata hati.
Ataukah aku lantas sekeras batu karang ?
Saat tetes-tetes air mata mampu melubangi bongkah-bongkah ketegaran.
Lalu apa arti dari semua ini ?
Begitu digjayakah aku untuk dapat menerima semua ini ?
Adakah dalih untuk cerita-cerita ini ?
Atau berikan saja aku sebilah pedang, agar kutebas aral
Walau semua rasa yang kubawakan untuknya berserakan
Hingga satu demi satu langkah terhenti
Terhenti, berhenti, terdiam, nyaris seperti mati
Aku hanya manusia
Sedangkan engkau TUHAN
KERTAS
Ambilah secarik kertas, Lalu berujarlah kepadanya sejadi-jadinya
Tanpa terhasut lelah, berenanglah dalam lautan kata-kata
Menyisir bersih setiap tepian perasaan menyelami hidup dengan kiasan
Semua tentu saja tidak akan lalu menjadi lebih mudah
Namun kertas ini ada.
Biarkan benakmu menggugat kemapanan
Tentang dia atau yang lainnya, tentang dia atau tentang dia.
Pada kertas ini kau berseloroh, juga mengumpat, lalu memaki
Matamu menatap langit-langit, terpejam, dan terus terpejam
Untuk kemudian menatap langit-langit lagi.
Hatimu seakan ingin melompat keluar dan berbicara.
Garuklah kepala sesukamu, geserlah nilai-nilai semaumu
Jenguklah juga sakit hati serta gembira, putus asa dan suka cita
Biarkan dirimu kehabisan kata-kata
Kertas ini akan senantiasa kosong
Kertas ini akan setia.
Sabtu, 20 Desember 2008
KABUT NELANGSA
Bahu ini menarik lupa lelahnya
Saat hujan menyisakan basah dan langit bersedia berbagi Matahari
Wajahku masih menatap langit ketika suaramu membalut luka-luka
Entah sampai kapan suaramu akan datang dan pergi
Seandainya saja dia menetap disini.
Terendap untuk sesaat tenang itu
Saat kupetik tatap dari kedua matamu
Lalu terhempas seraya dirimu melintas lepas
Kita hanya bertemu mata saat malaikat mulai mencatatnya
Sepertinya langit kembali memaksaku meregang lara.
Kabut nelangsa pekat kembali menyergap
Dalam keruh air mata aku benar-benar lelah
Aku sesuatu yang tidak berhak atasmu
Akan tetap menatap langit sampai tiba saatnya
Aku tahu...
Kamis, 18 Desember 2008
Cuma Sepi
CUMA SEPI
Lirih nada-nada kepedihan,
Nyanyian pelan yang parau dari kejauhan
Mengiris tipis-tipis ketabahan nurani
Menggugurkan segenap sisa-sisa keberanian
Siapa yang berani memeluk harapanku?
Cuma sepi ................
Ketiadaan jejak nuansa yang indah
Termakan gusar dan sejuta gerutu
Diam namun tidak selayaknya diam
Benci namun tidak seadanya benci
Siapa yang berani memeluk harapanku?
Cuma sepi ................
Untuk kepergianmu.
DIA
Menangis,
Bersetubuh dengan pengap
Menabuh genderang kepenatan Yang semakin menyekap
Geram aku dengan luka
Tersudut dalam lembab suasana kepedihan.
Benak yang terhina,
Pada setiap hela nafas yang meronta
Yang kudekap sedari tadi
Kau sematkan di dahiku.
Gemeretak,
Bunyi angan yang terbakar
Yang kubelai sedari tadi
Punah sudah............
Nyali yang terdiam,
Menatap mati keadaan
Menyesali tersungkurnya mimpi
Untuk kisah yang mungkin saja indah
Dia, mungkin dia, tapi bukan dia
Yang lebih tertarik berkata “Tidak”
Daripada “Iya” untuk menjadi,
Kekasihku...