Senin, 22 Desember 2008
HANYA MANUSIA
Saat riak anak sungai terus memecah kesunyian.
Apakah aku lalu sekuat badai ?
Ketika semilir hembusan angin mampu menjatuhkan kelopak mata hati.
Ataukah aku lantas sekeras batu karang ?
Saat tetes-tetes air mata mampu melubangi bongkah-bongkah ketegaran.
Lalu apa arti dari semua ini ?
Begitu digjayakah aku untuk dapat menerima semua ini ?
Adakah dalih untuk cerita-cerita ini ?
Atau berikan saja aku sebilah pedang, agar kutebas aral
Walau semua rasa yang kubawakan untuknya berserakan
Hingga satu demi satu langkah terhenti
Terhenti, berhenti, terdiam, nyaris seperti mati
Aku hanya manusia
Sedangkan engkau TUHAN
KERTAS
Ambilah secarik kertas, Lalu berujarlah kepadanya sejadi-jadinya
Tanpa terhasut lelah, berenanglah dalam lautan kata-kata
Menyisir bersih setiap tepian perasaan menyelami hidup dengan kiasan
Semua tentu saja tidak akan lalu menjadi lebih mudah
Namun kertas ini ada.
Biarkan benakmu menggugat kemapanan
Tentang dia atau yang lainnya, tentang dia atau tentang dia.
Pada kertas ini kau berseloroh, juga mengumpat, lalu memaki
Matamu menatap langit-langit, terpejam, dan terus terpejam
Untuk kemudian menatap langit-langit lagi.
Hatimu seakan ingin melompat keluar dan berbicara.
Garuklah kepala sesukamu, geserlah nilai-nilai semaumu
Jenguklah juga sakit hati serta gembira, putus asa dan suka cita
Biarkan dirimu kehabisan kata-kata
Kertas ini akan senantiasa kosong
Kertas ini akan setia.
Sabtu, 20 Desember 2008
KABUT NELANGSA
Bahu ini menarik lupa lelahnya
Saat hujan menyisakan basah dan langit bersedia berbagi Matahari
Wajahku masih menatap langit ketika suaramu membalut luka-luka
Entah sampai kapan suaramu akan datang dan pergi
Seandainya saja dia menetap disini.
Terendap untuk sesaat tenang itu
Saat kupetik tatap dari kedua matamu
Lalu terhempas seraya dirimu melintas lepas
Kita hanya bertemu mata saat malaikat mulai mencatatnya
Sepertinya langit kembali memaksaku meregang lara.
Kabut nelangsa pekat kembali menyergap
Dalam keruh air mata aku benar-benar lelah
Aku sesuatu yang tidak berhak atasmu
Akan tetap menatap langit sampai tiba saatnya
Aku tahu...
Kamis, 18 Desember 2008
Cuma Sepi
CUMA SEPI
Lirih nada-nada kepedihan,
Nyanyian pelan yang parau dari kejauhan
Mengiris tipis-tipis ketabahan nurani
Menggugurkan segenap sisa-sisa keberanian
Siapa yang berani memeluk harapanku?
Cuma sepi ................
Ketiadaan jejak nuansa yang indah
Termakan gusar dan sejuta gerutu
Diam namun tidak selayaknya diam
Benci namun tidak seadanya benci
Siapa yang berani memeluk harapanku?
Cuma sepi ................
Untuk kepergianmu.
DIA
Menangis,
Bersetubuh dengan pengap
Menabuh genderang kepenatan Yang semakin menyekap
Geram aku dengan luka
Tersudut dalam lembab suasana kepedihan.
Benak yang terhina,
Pada setiap hela nafas yang meronta
Yang kudekap sedari tadi
Kau sematkan di dahiku.
Gemeretak,
Bunyi angan yang terbakar
Yang kubelai sedari tadi
Punah sudah............
Nyali yang terdiam,
Menatap mati keadaan
Menyesali tersungkurnya mimpi
Untuk kisah yang mungkin saja indah
Dia, mungkin dia, tapi bukan dia
Yang lebih tertarik berkata “Tidak”
Daripada “Iya” untuk menjadi,
Kekasihku...