Sabtu, 20 Desember 2008

KABUT NELANGSA

Bahu ini menarik lupa lelahnya

Saat hujan menyisakan basah dan langit bersedia berbagi Matahari

Wajahku masih menatap langit ketika suaramu membalut luka-luka

Entah sampai kapan suaramu akan datang dan pergi

Seandainya saja dia menetap disini.


Terendap untuk sesaat tenang itu

Saat kupetik tatap dari kedua matamu

Lalu terhempas seraya dirimu melintas lepas

Kita hanya bertemu mata saat malaikat mulai mencatatnya

Sepertinya langit kembali memaksaku meregang lara.


Kabut nelangsa pekat kembali menyergap

Dalam keruh air mata aku benar-benar lelah

Aku sesuatu yang tidak berhak atasmu

Akan tetap menatap langit sampai tiba saatnya

Aku tahu...

Tidak ada komentar:

Pengikut