Senyum itu datang dari langit
Walau kau berada dalam sengit
Seutas tali sengaja menjuntai-juntai dalam sempit
Seakan tahu dirimu dalam keadaan sedikit
Lalu apa perdulinya bila kau juga sakit
Tidak ada sesungguhnya sahabat, hanya teman
Kasihnya tersendat-sendat dan sangat pelan
Kucoba menangis seperti perempuan-perempuan
Namun pekan terus berakhir pekan
Bersembunyi pada sarang laba-laba
Dengan mata pura-pura buta
Menerobos tatakrama dengan segumpal dosa
Dan berharap hari tak berakhir sama
Jenuh aku pada langit
Dan menangis seperti perempuan
Hidup bergelimang dosa.
Lalu apa pedulinya bila aku juga sakit
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar